Minggu, 22 Juni 2014


 

 Pesut Mahakam


Pesut mahakam atau Orcaella brevirostris adalah sejenis hewan mamalia yang sering disebut lumba-lumba air tawar. Tidak seperti mamalia air lain, yakni lumba-lumba dan ikan paus yang hidup di laut, pesut mahakam hidup di sungai-sungai daerah tropis. Populasi satwa langka yang dilindungi undang-undang ini hanya terdapat pada tiga lokasi di dunia yakni Sungai Mahakam, Sungai Mekong, dan Sungai Irawady. Pesut ini ditemukan di banyak muara-muara sungai di Kalimantan, tetapi sekarang pesut menjadi satwa langka. Selain di Sungai Mahakam, pesut ditemukan pula ratusan kilometer dari lautan, yakni di wilayah Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Habitat hewan pemangsa ikan dan udang air tawar ini dapat dijumpai pula di perairan Danau Jempang (15.000 ha), Danau Semayang (13.000 ha), dan Danau Melintang (11.000 ha).

                Pesut adalah maskot atau ikon kota Samarinda, secara tidak langsung ini menggambarkan bahwa kota Samarinda menjadi habitat ikan pesut, tapi bagaimana jika populasi ikan pesut yang semakin hari semakin berkurang ? dikarenakan pencemaran lingkungan dan perburuan pesut.

“di daerah saya kebetulan populasi ikan pesut masih lumayan banyak, beberapa minggu yang lalu saya sempat mendengar kabar bahwa ada pesut yang mati karena tersangkut jaring nelayan. Saya sangat prihatin dengan kondisi ini, kita sudah tau kalau populasi pesut itu sudah sedikit, kalau semakin hari semakin banyak pesut yang mati karena pencemaran air dan faktor-faktor lain, bisa-bisa pesut akan segera punah. Saya berharap masyarakat sekitar ikut berperan untuk pelestarian pesut yang hampir punah ini, nelayan bisa memancing menggunakan alat yang lain agar tidak ada pesut yang tersangkut di jaring lagi” ungkap Rismahayani, FKIP Bahasa Inggris.

“harapannya ikan pesut tidak punah. Untuk saat ini ada kerjasama antara Jepang dan Mulawarman bersama National Geographi mendeteksi dulu populasi di dasar sungai, nanti akan dicarikan solusi agar populasinya tetap bertahan. Sekarang kan kadar merkuri dari limbah-limbah tambag ke sungai, nah ini yang mempengaruhi populasi. Sejauh ini yang saya  tahu upaya pemerintah saat ini masih mendeteksi jumlah valid  dari populasi ikan pesut”  terang Bapak Alamsyah, salah satu dosen Univ. Widyagama Mahakam Samarinda.

                Tidak dipungkiri bahwa masalah ini adalah tanggung jawab pemerintah, namun masyarakatpun harus sadar dan ikut serta melestarikan populasi ikan pesut dengan cara tidak memburu dan membuang limbah ke sungai. Pesut adalah ikon kota kita, apa jadinya kalau pesut benar-benar punah ? apakah pesut mahakam hanya akan menjadi ikon ? ikon kenangan atas punahnya pesut mahakam. 


(*NFP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar